tulisan berjalan

Rabu, 28 November 2012

SEJARAH 2



MATERI 1 : SEJARAH KELAS XI IPA

A.      HIPOTESIS MASUK DAN BERKEMBANGNYA KEBUDAYAAN HINDU BUDDHA KE INDONESIA.
 
Hipotesis masuk dan berkembangnya agama dan kebuadayaan Hindu Buddha di Indonesia. Hipotesa ini terbagi dalam dua kelompok :

A.    Teori Kolonisasi

1.  Hipotesis Waisya
Hipotesis Waisya dikemukakan oleh NJ Krom dibawa oleh para pedagang yang datang untuk menetap dan menikah dengan orang Indonesia

2.  Hipotesis Ksatria
- CC. Berg menyatakan bahwa golongan yang turut menyebarkan kebudayaan Hindu Buddha ialah para petualang yang sebagian besar dari golongan Ksatria. Para Ksatria tersebut ada yang terlibat langsung konflik perebutan kekuasaan di Indonesia.
- Mookerji menyatakan bahwa para Ksatria ini membangun koloni-koloni yang kemudian berkembang menjadi sebuah krajaan.
- JL Moens tentang masuknya agama Hindu menyatakan bahwa masuknya agama Hindu ke Indonesia dibawa oleh para prajurit disebabkan karena adanya kekacauan politik dan peperangan di India abad ke-4 dan 5 Masehi.Teori penaklukan diekmukakan oleh FDK Bosch.

3.  Hipotesis Brahmana                                                                                
Hipotesis Brahamana dikemukakan oleh JC. Van Leur tentang masuknya pengaruh Hindu Budha di Indonesia  dibawa oleh kaum Brahmana yang mendapat undangan kepala suku yang tertarik dengan agama Hindu.

  C.   Hipotesa  Arus Balik
Hipotesis Arus Balik merupakan kritik terhadap ketiga teori kolonisasi tersebut (Waisya, Ksatria, Brahmana) tentang masuknya agama dan kebudayaan Hindu dilakukan oleh bangsa Indonesia yang belajar ke India dan kembali ke Indonesia mengajarkan agama Hindu.
   
Pada dasarnya keempat teori tersebut memiliki kelemahan yaitu karena golongan ksatria dan waisya tidak mengusai bahasa Sansekerta. Sedangkan bahasa Sansekerta adalah bahasa sastra tertinggi yang dipakai dalam kitab suci Weda. Dan golongan Brahmana walaupun menguasai bahasa Sansekerta tetapi menurut kepercayaan Hindu kolot tidak boleh menyeberangi laut.
Disamping pendapat / hipotesa tersebut di atas, terdapat pendapat yang lebih menekankan pada peranan Bangsa Indonesia sendiri, untuk lebih jelasnya simak uraian berikut ini.
Hipotesis Arus Balik dikemukakan oleh FD. K. Bosh. Hipotesis ini menekankan peranan bangsa Indonesia dalam proses penyebaran kebudayaan Hindu dan Budha di Indonesia. Menurutnya penyebaran budaya India di Indonesia dilakukan oleh para cendikiawan atau golongan terdidik. Golongan ini dalam penyebaran budayanya melakukan proses penyebaran yang terjadi dalam dua tahap yaitu sebagai berikut:
   1. Proses penyebaran di lakukan oleh golongan pendeta Budha atau para biksu, yang menyebarkan agama Budha ke Asia termasuk Indonesia melalui jalur dagang, sehingga di Indonesia terbentuk masyarakat Sangha, dan selanjutnya orang-orang Indonesia yang sudah menjadi biksu,)) berusaha belajar agama Budha di India. Sekembalinya dari India mereka membawa kitab suci, bahasa sansekerta, kemampuan menulis serta kesan-kesan mengenai kebudayaan India. Dengan demikian peran aktif penyebaran budaya India, tidak hanya orang India tetapi juga orang-orang Indonesia yaitu para biksu Indonesia tersebut. Hal ini dibuktikan melalui karya seni Indonesia yang sudah mendapat pengaruh India masih menunjukan ciri-ciri Indonesia.
   2. Proses penyebaran kedua dilakukan oleh golongan Brahmana terutama aliran Saiva-siddharta. Menurut aliran ini seseorang yang dicalonkan untuk menduduki golongan Brahmana harus mempelajari kitab agama Hindu bertahun-tahun sampai dapat ditasbihkan menjadi Brahmana. Setelah ditasbihkan, ia dianggap telah disucikan oleh Siva dan dapat melakukan upacara Vratyastome / penyucian diri untuk menghindukan seseorang.
   Jadi hubungan dagang telah menyebabkan terjadinya proses masuknya penganut Hindu - Budha ke Indonesia. Beberapa hipotesis di atas menunjukan bahwa masuknya pengaruh Hindu - Budha merupakan satu proses tersendiri yang terpisah namun tetap di dukung oleh proses perdagangan.
Untuk agama Budha diduga adanya misi penyiar agama Budha yang disebut dengan Dharmaduta, dan diperkirakan abad 2 Masehi agama Budha masuk ke Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan adanya penemuan arca Budha yang terbuat dari perunggu diberbagai daerah di Indonesia antara lain Sempaga (Sulawesi Selatan), Jember (Jatim), Bukit Siguntang (Sumatera Selatan). Dilihat ciri-cirinya, arca tersebut berasal dari langgam Amarawati (India Selatan) dari abad 2 - 5 Masehi. Dan di samping itu juga ditemukan arca perunggu berlanggam Gandhara (India Utara) di Kota Bangun, Kutai (KalimantanTimur).   sumber; di buku lks sejarah.

SEJARAH 1


SEJARAH KELAS XI IPA SEMESTER 1 .
KERAJAAN HINDU BUDHA (GALUH DAN PEJAJARAN)_KE INDONESIA

Dalam kegiatan 2 ini akan dibahas mengenai lahirnya kerajaan Hindu Buddha yang ada di Jawa Barat yaitu Kerajaan Galuh dan Kerajaan Pajajaran. Berdirinya kerajaan-kerajaan ini merupakan suatu perubahan yang penting dengan masuknya pengaruh tradisi Hindu Budha, khususnya Jawa Barat. Kapan  kerajaan-kerajaan tersebut berdiri? Bagaimana perkembangan Kerajaan-kerajaan Hindu Buddha?
1.  Kerajaan Galuh
                      Kerajaan Galuh adalah suatu kerajaan Sunda di Pulau Jawa yang wilayahnya terletak antara Sungai Citarum di sebelah barat dan Sungai Cipamali di ebelah timur. Kerajaan ini merupakan penerrus dari Kerajaan Kendan bawahan Tarumanegara.
Kata “Galuh” berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti sejenis batu permata. Kata “galuh” juga digunakan sebagai sebutan bagi ratu yang menikah (“raja puteri). Kerajaan Galuh merupakan penyatuan dari dua kerajaan yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Kedua kerajaan tersebut merupakan pecahan dari kerajaan Tarumanegara. Menurut sumber sejarah, ibukota kerajaan Sunda berada di daerah Bogor, sedangkan kerajaan Galuh berada di daerah Ciamis, tepatnya di Kawali.
      a. Sumber sejarah :
1. Prasati Mandiwunga
2. Prasasti Cikajang
3. Prasasti Galuh, berbahasa Sunda Kuno. Prasasti ini diperkirakan dibuat abad 14-15 Masehi. Isinya sangat ringkas dan merupkan candrasangkala yaitu [wa]ra buta Mahisa hire.
4. Kisah perjalanan Prabu Jaya Pakuan (Bujangga Manik) dengan melukiskan : sadatang ka tungtung sunda , mentasing di Cipamali, datang ka alas Jawa (ketika ku mencapai perbatasan Sunda, aku menyebrangi sungai Cipamali (kali Brebes), dan masuklah aku hutan Jawa)
5. Carita Parahyangan yang ditulis pada tahun 1518 Masehi, Kerajaan Galuh dimulai waktu Rahiyangta ri Medangjati yang menjadi raja selama lima belas tahun (597-612) yang kemudian menjadi pertapa di Layungwatang, kemudian  kekuasaan diteruskan kepada putranya Wretikandayun yang dinobatkan pada tangggal 14 suklapksa bulan Caitra tahun 134 Saka (kira-kira 23 Maret 612 Masehi).
Gambar 3 : Candi Cangkuang
b. Raja-raja Galuh sampai Prabu Gajah Kulon, yang berjumlah 13 nama raja
No
Nama Raja
Masa Pemerintahan
Keterangan
1
Wretikandayun
670-702

2
Rahyang Mandiminyak
702-709

3
Rahyang Bratasenawa
709-716

4
Rahyang  Purbasora
716-723
Sepupu o.3
5
Sanjaya Harisdarma
723-724
Anak no. 3
6
Adi Mulya Premanadikusuma
724-725
Cucu no. 4
7
Tamperan Barmawijaya
725-739
Anak no. 5
8
Manarah
739-783
Anak no. 6
9
Guruminda Sang Minisri
783-799
Menantu No. 8
10
Prabu Kertayasa Dewasaleswara Sang Tri Wulan
799-806

11
Sang Walengan
806-813

12
Prabu Linggabumi
813-852

13
Parbu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus
819-891


2. Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Pajajaran adalah kerajaan Hindu yang diperkirakan beribu kota Pakuan (Bogor) di Jawa Barat. Kerajaan ini sering disebut juga dengan nama Negeri Sunda, Pasundan, atau berdasarkan nama ibu kotanyaPakuan Pajajaran.
Sejarah Kerajaan Pajajaran tidak lepas dari kerajaan-kerajaan pendahulunya yaitu Kerajaan Tarumanegara.
a.       Sumber Sejarah
1.       Prasasti Batu Tulis, yang berisi tentang penobatan raja Sri baduga, ketika menerima Galuh dari ayahnya Prabu Dewa Niskala yang kemudian beregelar Prabu Guru Dewapranata. Kedua ia menerima tahta kersajaan dari mertuanya Susuktunggal., dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji.
2.       Prasasti Sang Hyang Tapak, Sukabumi
3.       Prasasti Kawali, Ciamis
4.       Tugu Perjanjian Portugis
b.      Raja-raja Pajajaran
1.       Sri Baduga Maharaja (1482-1521), atau Ratu Dewata memerintah selama 39 tahun. Sri baduga  lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi, yang tercantum dalam kropak 630 sebagai lakon pantun.
2.       Surawisesa (1521-1535), putranya Sunda dari Mayang Sunda dan cucu dari Susuk tunggal. Dalam Carita Parahyangan ia memerintah selama 14 tahun dan malakukan 15 kali pertempuran.
3.       Ratu Dewata (1535 - 1543), ia dikenal sebagai panglima perang yang perkasa dan pemberani, membangun tega Maharena Wijaya.
4.       Ratu Sakti (1543-1551), ia bersikap keras dan lalim.
5.       Raga Mulya (1567-1579), merupakan raja terakhir Kerajaan Pajajaran. Dalam naskah sebagaiPrabu Suryakencana, sedangkan dalam Carita Parahyangan dikenal Nusya Mulya. Dalam Kitab Pustaka Nusantara III/I, dan Kretabumi I/2 tentang lenyapnya Kerajaan Pajajaran pada tanggal 11 bagian terang bulan Waseka tahun 1501 Saka.